Image Image
Kesehatan

Sumber Penularan Ditemukan, Pengidap TBC di Sanggau Menurun

Ilustrasi TBC

– Jumlah pengidap tuberkulosis atau TBC di Kabupaten Sanggau mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir. Penurunan terjadi lantaran sumber penularannya sudah ditemukan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau, tahun 2018 ditemukan 858 kasus TBC, tahun 2019 sebanyak 843 kasus. Tahun 2020 sebanyak 643 kasus dan tahun 2016 terdapat 617 kasus TBC. Namun pada tahun 2017, kasus TBC di Kabupaten Sanggau naik menjadi 815.

“Kemudian pada tahun 2018 terdapat 858 kasus, turun pada tahun 2019 menjadi 843 kasus dan turun lagi pada tahun 2020 menjadi 643 kasus,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sanggau, Sarimin Sitepu, Jumat (21/5/2021).

Turunnya angka pengidap TBC tiga tahun terakhir karena sumber penularannya sudah ditemukan. Penderita diobati sampai sembuh, sehingga tidak menularkan lagi.

“Di samping itu, kepatuhan minum obat sangat baik, sehingga tujuan akhir kita adalah eleminasi penyakit TBC ini,” ujarnya.

Sarimin mengungkapkan selama ini metode yang dilakukan pihaknya adalah pelacakan kontak. Apabila sudah ditemukan satu pengidap TBC, maka keluarga serumah akan diperiksa. Termasuk tetangganya yang sering berinteraksi.

Image

“Dalam pelacakan kontak kita juga bekerja sama dengan TB Care Aisyiyah Sanggau. Di periode Januari hingga Mei tahun 2021 ini, ditemukan 125 pengidap TBC,” ungkapnya.

Sarimin menjelaskan sebaran TBC di semua kecamatan se Kabupaten Sanggau. Proses pengobatannya selama enam bulan dan tidak boleh putus obat. Dan, Ia memastikan tidak ada masalah terkait pelayanan bagi pengidap TBC di masa pandemi Covid-19.

“Pelayanan TBC atau yang berobat di layanan kesehatan pada masa pandemi Covid-19 tidak terganggu. Kita mengubah sistem yang tadinya kita berikan obat sekali seminggu, di masa pandemi ini kita berikan obat untuk satu bulan,” jelasnya.

Selama proses penyembuhan, Sarimin mengingatkan penderita TBC tidak boleh putus obat. Jika putus obat, risikonya adalah resisten terhadap obat yang disebut multidrug resistant (MDR).

“Untuk stok obat tidak ada masalah, karena kita tinggal mengusulkan ke Dinas Kesehatan provinsi sesuai kebutuhan,” sebutnya.

“Pencegahannya, tutup mulut saat batuk atau bersin, jangan meludah atau membuang dahak sembarangan, mengurangi interaksi sosial, biarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan dan berperilaku hidup bersih dan sehat,” sambung Sarimin (faf)

Image
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top