
JURNALIS.co.id – Sebanyak 480 hektare lahan di empat kecamatan Kabupaten Kapuas Hulu ditetapkan sebagai lokasi Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang digagas pemerintah pusat.
Program ini digarap langsung oleh Kodim 1206/Psb dan saat ini tengah memasuki proses pembukaan lahan.
Empat kecamatan yang menjadi titik pengerjaan CSR masing-masing berada di Desa Sukamaju Kecamatan Putussibau Selatan seluas 200 hektare, Desa Nanga Lot Kecamatan Seberuang 100 hektare, Jongkong Hulu Kecamatan Suhaid 150 hektare, dan Desa Benuis Kecamatan Selimbau 30 hektare.
Salah satu wilayah dengan luasan terbesar adalah Desa Sukamaju, Putussibau Selatan. Pembukaan lahan seluas 200 hektare di desa tersebut menelan anggaran sebesar Rp6,6 miliar.
Hasbi, Kepala Desa Sukamaju, menyambut program ini dengan penuh syukur.
“Kami sangat berterimakasih masuknya program CSR ini ke Desa Sukamaju. Program ini sangat sesuai dengan potensi yang ada, karena di Desa Sukamaju ini memiliki lahan persawahan kurang lebih 360 Ha. Sementara yang sudah dibuka seluas 200 Ha,” katanya baru-baru ini.
Menurutnya, masyarakat merespons sangat positif karena kehadiran program ini membuka lapangan pekerjaan dan memberi harapan baru untuk peningkatan kesejahteraan.
“Dan kita juga berharap adanya program CSR ini, Desa Sukamaju menjadi lumbung pangan di Kapuas Hulu,” ujarnya.
Hasbi menjelaskan bahwa pembukaan lahan mengacu pada dua target waktu berbeda, yakni kontrak Dinas Pertanian Kapuas Hulu pada Maret 2026, sementara Dandim dan Pangdam XII/Tanjungpura menargetkan penyelesaian pada 22 Desember 2025.
Ia juga menekankan pentingnya kesesuaian pengerjaan dengan Surat Perintah Kerja (SPK) Kementerian Pertanian agar hasilnya optimal.
“Setelah lahan ini dibuka dan sudah siap. Maka akan dikelola oleh Brigade Pangan. Nanti dari Brigade Pangan inilah yang akan merekrut tenaga kerja,” jelasnya.
Hasbi berharap program CSR kali ini tidak mengalami kegagalan seperti program serupa di masa lalu.
“Dulu beberapa tahun yang lalu ada juga program cetak sawah di desa ini, tapi saat itu dikerjakan secara manual sehingga tidak maksimal. Tetapi masih banyak juga faktor-faktor lain yang mejadi penyebab gagalnya program tersebut,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap optimistis karena lahan kini dibuka dalam satu hamparan besar sehingga memudahkan pengelolaan dan pemanfaatan Alsintan dari Kementerian Pertanian.
“Sehingga bantuan Alsintan dari Kementerian Pertanian pun bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ucapnya.
Hasbi juga meminta pemerintah daerah ikut terlibat secara berkelanjutan dalam pendampingan.
“Bukan berarti dengan cetak sawah ini, program selesai. Karena masih banyak rangkaianya yang harus dilakukan seperti pengairanya perlu diperhatikan, kesuburan tanah dan lain sebagainya,” ujarnya.
Dari Kecamatan Selimbau, Kades Benuis, Panus, juga membenarkan desanya menjadi lokasi cetak sawah.
“Di desa Benuis ada 30 Ha lahan yang dibuka untuk program CSR ini, saat ini masih dalam proses pembukaan,” tuturnya.
Ia menilai program cetak sawah sangat penting sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan, sekaligus memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan lahan yang didampingi pemerintah pusat dan daerah.
“Kita berharap program cetak sawah rakyat ini sesuai dengan perencanaan yang ada dari Pemerintah Pusat,” pungkasnya.
(Opik)


















Discussion about this post