
JURNALIS.co.id – Meningkatnya aktivitas digital masyarakat Indonesia yang kini mencapai 202 juta pengguna internet tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga membuka celah kejahatan siber yang semakin masif. Demikian ditegaskan Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Pontianak, Wanty Eka Jayanti, dalam kegiatan diskusi “Ngobrol Santai: Jaga Jejakmu, Praktik Aman di Ruang Digital” yang digelar oleh Forum Pena Digital bersama Indosat Ooredoo Hutchison di RBK Café, Pontianak, Jumat (12/12/2025).
Dalam paparannya bertajuk “Digital Safety: Ancaman dan Pencegahan” ini, Wanty menyoroti bahwa keamanan digital bukan sekadar menjaga data, melainkan juga melindungi harta benda dari tindak penipuan.
Waspada Phishing dan Modus Penipuan
Wanty yang juga merupakan penggiat literasi digital dan anggota Mafindo ini menjelaskan berbagai jenis kejahatan siber (cybercrime) yang marak terjadi, mulai dari Cyber Bullying, Scamming (penipuan), Identity Theft (pencurian identitas), hingga Judi Online (Judol). Namun, salah satu ancaman terbesar yang sering menjebak masyarakat adalah Phishing.
“Penjahat siber sering menggunakan taktik phishing untuk mencuri informasi pribadi. Masyarakat diimbau untuk tidak mengklik tautan atau lampiran dari sumber yang mencurigakan atau tidak dikenal, serta memverifikasi keaslian situs web sebelum memasukkan data sensitif,” ujar Wanty.
Selain itu, Wanty menekankan bahaya mengunduh aplikasi sembarangan. Mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi (di luar Google Play Store atau iOS App Store) sangat berisiko karena dapat menjadi pintu masuk bagi malware atau phishing.
OTP Adalah Kunci Rahasia
Dalam sesi tersebut, Wanty memberikan penekanan khusus mengenai One-Time Password (OTP). Ia mengingatkan bahwa kode OTP adalah benteng keamanan transaksi digital yang bersifat sangat rahasia.
“Kode OTP tidak boleh diberikan kepada siapa pun, baik itu keluarga, kerabat dekat, bahkan pihak yang mengaku sebagai karyawan bank atau operator seluler sekalipun,” tegas Wanty.
Edukasi ini menjadi krusial mengingat banyaknya korban penipuan yang tidak sadar telah menyerahkan “kunci” akun mereka kepada penipu.
Tips Praktis Pengamanan Mandiri
Di hadapan 50 peserta yang hadir, Dosen UBSI Pontianak ini membagikan langkah-langkah praktis agar masyarakat bisa menjadi “tameng” bagi diri sendiri:
Manajemen Password: Gunakan kata sandi yang kuat (kombinasi huruf besar, kecil, angka, simbol) dan rutin menggantinya secara berkala.
Hindari Wi-Fi Publik untuk Transaksi: Jangan pernah mengakses akun perbankan atau melakukan transaksi keuangan saat terhubung ke jaringan Wi-Fi publik yang tidak aman.
Jaga Privasi Lokasi: Hindari penggunaan fitur geotagging atau membagikan lokasi secara terbuka di media sosial untuk menghindari penguntitan atau kejahatan fisik.
Edukasi Diri: Terus perbarui pengetahuan tentang modus-modus baru seperti ransomware dan pencurian data agar bisa mendeteksi ancaman sejak dini.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Pena Digital bersama Indosat Ooredoo Hutchison ini berjalan interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang terdiri dari mahasiswa, komunitas kreatif, dan masyarakat umum. Paparan dari akademisi UBSI ini diharapkan dapat membangun kompetensi keamanan digital masyarakat, khususnya dalam mengamankan perangkat dan identitas digital mereka.
Sementara Ketua Forum Pena Digital, Alvia Alhadi mengatakan kegiatan edukasi atau pun meliterasi banyak kalangan perlu digencarkan.
“Kita semua mengakui bahwa teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuka peluang besar dalam komunikasi, ekonomi, dan pendidikan,” katanya.
Namun, lanjut Alvia, layaknya dua sisi mata uang, kemudahan ini juga disertai dengan risiko dan ancaman yang semakin kompleks.
“Jejak digital kita adalah identitas permanen yang perlu kita jaga dengan penuh kesadaran. Makanya Pencegahan adalah kunci, dan kita perlu memahami langkah-langkah konkret yang harus kita ambil,” ujarnya.
Yang tidak kalah penting, peran strategis perusahaan telekomunikasi seperti Indosat. Saat ini diketahui Indosat telah meluncurkan dua inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI), yaitu Tri AI dan Satspam. Sebagai informasi, Satspam akan jadi tameng pengguna IM3, sedangkan Tri AI diperuntukan pelanggan Tri Indonesia.
“Pemanfaatan teknologi AI semacam ini sangat kita apresiasi karena dengan ini pengguna seluler bisa lebih waspada terutama dari telepon spam dan ancaman scam,” ungkapnya. (m@nk)


















Discussion about this post