
JURNALIS.co.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Ketapang menyuarakan dua isu strategis dalam audiensi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ketapang, Jumat (27/02/2026).
Mahasiswa mendorong optimalisasi penyerapan tenaga kerja lokal di sektor industri serta penguatan gerakan anti-narkoba di kalangan generasi muda.
Audiensi tersebut menjadi ruang dialog antara mahasiswa dan legislatif dalam membahas tantangan pembangunan daerah, khususnya di tengah besarnya potensi sumber daya alam Ketapang.

Presiden Mahasiswa (Presma) BEM Politeknik Negeri Ketapang, Khairunnisa, menilai potensi sektor perkebunan sawit dan pertambangan belum sepenuhnya diimbangi dengan keterlibatan tenaga kerja lokal secara optimal.
Sebagai institusi pendidikan vokasi, Politeknik Negeri Ketapang telah merancang kurikulum berbasis kebutuhan industri.
Namun, berdasarkan pengalaman praktik kerja lapangan (PKL) serta komunikasi dengan alumni, masih terdapat kesenjangan antara ketersediaan lulusan lokal dan peluang kerja di perusahaan yang beroperasi di daerah.
“Kami ingin ada perhatian serius agar lulusan daerah yang kompeten mendapat ruang lebih besar untuk berkontribusi di tanah sendiri,” ujar Khairunnisa.
BEM juga mendorong penguatan kerja sama formal antara kampus dan perusahaan, termasuk melalui skema rekrutmen langsung, program magang terstruktur, hingga peningkatan kuota beasiswa bagi putra-putri daerah.
Menanggapi aspirasi tersebut, Achmad Sholeh menegaskan DPRD terbuka terhadap dialog dan kritik konstruktif dari mahasiswa. Ia menyebut DPRD sebagai rumah rakyat yang memiliki fungsi pengawasan, penganggaran, dan legislasi.

“Silakan menyuarakan aspirasi. Namun harus berbasis data yang utuh dan disertai solusi. Kita ingin membangun Ketapang secara bersama,” tegasnya.
Menurut Sholeh, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar lulusan lokal mampu bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.
“DPRD, selama ini telah mendorong perusahaan untuk memberikan prioritas bagi tenaga kerja lokal, termasuk melalui kebijakan kuota dan program beasiswa pendidikan,” kata Sholeh.
Selain isu ketenagakerjaan, Sholeh juga menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswa untuk aktif menyuarakan gerakan anti-narkoba. Ia menilai ancaman narkotika semakin kompleks dan berpotensi menyasar generasi muda di daerah.
“Mahasiswa harus menjadi garda terdepan menyuarakan kampus bersih narkoba. Jangan sampai generasi muda Ketapang kehilangan masa depan karena narkotika,” harapnya.
Ia mendorong BEM untuk menginisiasi langkah konkret, seperti seminar edukasi, kampanye sosial, diskusi publik, hingga kolaborasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait guna memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi awal kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa dan DPRD dalam mengawal isu ketenagakerjaan serta perlindungan generasi muda di Kabupaten Ketapang.
(lim)



















Discussion about this post