
JURNALIS.co.id – Di tengah hangatnya suasana Idulfitri 1447 Hijriyah, Kota Pontianak menghadirkan peristiwa langka yang tak hanya memikat warga lokal, tetapi juga menyita perhatian wisatawan mancanegara.
Fenomena kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa kembali terjadi, menghadirkan momen unik ketika bayangan seolah lenyap tepat di bawah terik matahari.
Peristiwa alam yang hanya terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada 21–23 Maret dan 21–23 September ini, menjadi daya tarik tersendiri.

Saat matahari tepat berada di garis lintang nol derajat, bayangan benda di permukaan bumi tampak menghilang—sebuah fenomena yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan.
Momentum ini semakin semarak dengan kehadiran para siswa sekolah dasar yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan.
Bersama Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dan tamu undangan, mereka mencoba eksperimen sederhana namun menarik, mendirikan telur secara tegak. Sorak gembira pun pecah saat beberapa anak berhasil, sementara yang lain tak menyerah mencoba berbagai cara.
Di antara keramaian itu, hadir pula Robby, traveller sekaligus konten kreator asal Swiss yang dikenal lewat kanal YouTube ‘Robby 3 Wheels’. Ia mengaku takjub menyaksikan langsung fenomena langka tersebut.
“Ini pengalaman yang luar biasa. Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini sebelumnya. Saat bayangan benar-benar hampir hilang, itu sangat menakjubkan,” ungkapnya, Senin (23/3/2026).
Menurutnya, kulminasi matahari di Pontianak memiliki potensi besar untuk menjadi magnet wisata dunia.
Dengan pengemasan yang menarik serta promosi yang tepat, fenomena ini diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
“Saya yakin jika event ini terus dipromosikan secara luas, ini akan menjadi daya tarik bagi orang-orang di luar sana,” tutur traveller yang mengendarai sepeda motor tipe sespan ini.
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan bahwa kulminasi matahari merupakan fenomena alam yang rutin terjadi di kota ini. Ia menjelaskan bahwa titik kulminasi berlangsung pada rentang 21 hingga 23 Maret.
“Tahun ini menjadi momen yang istimewa karena bertepatan dengan bulan Syawal 1447 Hijriyah dan masih dalam suasana lebaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, peringatan kulminasi matahari telah menjadi agenda tahunan yang digelar setiap Maret dan September.
Pemerintah Kota Pontianak pun terus berinovasi untuk mengemas fenomena ini menjadi atraksi yang lebih menarik.
“Peristiwa ini menjadi ciri khas Kota Pontianak dan tidak ditemukan di daerah lain. Oleh karena itu, peringatannya akan terus dilaksanakan secara berulang setiap tahunnya,” pungkasnya.
( rdh )






















Discussion about this post