
Jurnalis.co.id – Demi mengurangi pencurian Tandan Buah Segar (TBS) dan menghindari pemanfaatan jalan untuk aktifitas di luar perkebunan, PT Hungarindo Persada HPE – SBJE Sungai Melayu Rayak, memutuskan untuk menutup akses jalan di Blok C3/4.
Pemutusan akses jalan ini ditandai dengan pelebaran parit batas. Dilaksanakan setelah melalui proses serangkaian sosialisasi bersama tokoh masyarakat, pihak terkait dan aparat desa setempat.
Corporate Affair Manager PT Hungarindo Sungai Melayu, Romulus menyampaikan, pemutusan dan pelebaran parit batas sudah melalui keputusan bersama. Melibatkan tim 10, humas, pengurus Koperasi BBB Sungai Melayu dan pengurus Koperasi BKS Kemuning Biutak.
“Itu (pemutusan, red) kita laksanakan pada 16 April. Namun satu minggu sebelum pemutusan jalan batas, areal HP atau areal penambangan sudah kita pasang plang pemberitahuan bahwa jalan akan diputus,” kata Romulus, Jumat (01/5/2026).
Romulus menjelaskan, kebijakan pemutusan akses jalan diambil melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya, perusahaan tidak mau dianggap memberikan fasilitas akses kegiatan lain seperti PETI.
“Yang perlu kami tegaskan, jalan ini adalah jalan yang dibuat perusahaan. Kemudian bukan juga satu-satunya akses utama masyarakat. Jangan ada kesan, kita menghambat akses pendidikan seperti video viral belakangan ini,” jelasnya.
Romulus menuturkan, sejak pemasangan plang pemberitahuan pemutusan jalan sampai eksekusi, tidak ada isu komplen dari para pihak pengguna jalan yang keluar masuk areal HP atau area tambang.
Hanya saja, pasca pemutusan jalan muncul sedikit protes dari salah satu pihak. Persoalan tersebut pun bisa diselesaikan setelah pihaknya memberikan penjelasan melalui mediasi.
“Jadi memang jalan ini digunakan aktif oleh oknum ataupun kelompok masyarakat penambang maupun pemilik kebun yang berada di areal HP untuk mobilisasi alat, TK, BBM, logistik, dan hasil kerja. Sebab jalur ini lebih dekat dan bagus untuk dilalui kendaraan roda empat,” tuturnya.
Romulus menambahkan, kendati jalan tersebut telah diputus, pihaknya tetap membuat jalan alternatif. Keputusan diambil setelah melakukan mediasi bersama para pihak pada 20 April 2026, meskipun Kepala Desa Kepuluk tidak menyetujui.
“Kita juga sudah melakukan survey rencana untuk pembuatan jalan alternatif nya. Tapi pihak yang sempat komplain tidak ikut survey, bahkan sampai saat ini belum ada komunukasi. Padahal dalam mediasi disepakati untuk bekerja sama,” imbuhnya.
Sekdar informasi, di platform media sosial Tiktok sempat beredar video sejumlah anak SD yang menyebut, anak perusahaan BGA yakni PT Hungarindo itu telah memutus akses jalan yang dilalui mereka menuju sekolah.
Video viral ini memantik berbagai reaksi netizen. Hingga akhirnya, PT Hungarindo Persada mempertegas, bahwa jalan yang diputus adalah langkah pihaknya dalam meminimalisir aktivitas di luar perkebunan. (Lim)






















Discussion about this post