
Jurnalis.co.id – Banjir di Desa Pagar Mentimun, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang pada 17 Mei 2026 lalu, di kawasan PT Borneo Alumindo Prima (BAP) terus menjadi perhatian otoritas terkait.
Perhatian kali ini tidak lagi mengarah pada Adendum Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) Terminal Khusus (Tersus). Melainkan terfokus pada dugaan ketidaksesuaian pembangunan di lapangan dengan dokumen AMDAL yang sudah dimiliki.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalimantan Barat, Adi Yani mengatakan, AMDAl yang di adendum (PT BAP, red) dipastikan memang tidak ada hubungan dengan kegiatan yang sudah berlangsung (Penimbunan).

“Dipastikan tidak ada hubungan dengan kegiatan yang sudah berlangsung. Karena adendum yang dilakukan terhadap kegiatan yang belum dilaksanakan,” kata Ade Yani, Jumat (22/5/2026) kemarin.
Yani juga merespon peristiwa banjir di kawasan PT BAP, yang diduga faktor penyebabnya adalah aktivitas penimbunan lahan Tersus. Keterkaitan hal tersebut menyangkut dokumen AMDAL yang ada.
“Sesuai dengan apa yang sudah diberitakan di media,” tulis Yani sembari mengirimkan salah satu link media yang memuat pernyataan Anggota DPRD Kalbar.
Atas kejadian tersebut, pihaknya akan melakukan pengecekan kembali dokumen AMDAL yang lama. Mengingat PT BAP merupakan tenan PT Ketapang Bangun Sarana (KBS).
“PT BAP adalah tenan dari PT KBS sebagai kawasan industri. Maka perlu dicek lagi dokumen AMDAL yang lama,” ucapnya.
Ia memastikan, bakal mengecek kesesuaian aktivitas di kawasan Tersus yang disebut sebagai pemicu banjir. Pihaknya pun bakal melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang untuk mengambil langkah berikutnya.
“Harus dicek dulu, apakah kegiatan yang sekarang terjadi sudah tertuang baik dalam dokumen AMDAL. Dinas LH Kabupaten merupakan Dinas terdekat dalam penanganan lingkungan. Nanti kami koordinasikan dengan mereka untuk langkah lebih lanjut,” tuturnya.
Ditanya mengenai tindakan, Yani belum bisa memastikan. Terlebih pengawasannya melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
“Harus dilakukan verifikasi lapangan dan pengecekan untuk disesuaikan dengan dokumen lingkungan yang telah dimiliki. Namun perlu menjadi perhatian, karena KBS ini sekarang menjadi PSN dan sudah ada AMDAL baru dari PT KBS. Maka perlu ada pelibatan Kementerian dalam pengawasannya,” timpalnya.
Sebelumnya, Anggota DPRD Kalbar, Kasdi menyebut, banjir yang berlangsung di kawasan PT BAP, Desa Pagar Mentimun bukan murni bencana alam, tetapi akibat kesalahan manusia.
“Harusnya, arus aliran anak sungai yang ada di lokasi diselamatkan dulu. Supaya daya tampung air mudah mengalir. Jangan ditimbun dulu, itu sudah menyalahi aturan dan merusak. Itukan anak sungai ditutup oleh mereka,” kata Kasdi, Selasa (19/5/2026).
Kasdi meyakini, bilamana pelaksanaan pembangunan dilakukan sesuai dengan dokumen AMDAL, dipastikan banjir tidak akan muncul. Namun, fakta di lapangan justru sangat bertolak belakang.
“Saya memang belum baca AMDAL nya. Itu dari kasat mata, pandangan di lapangan manusia awam saja, tanpa teknis pun pasti tahu sekali. Bahwa di situ ada aliran sungai, apalagi aliran yang agak susah menyerap ke bawah,” sebutnya.
Sementara itu, Manager Humas PT BAP, Budi Mateus yang dikonfirmasi Selasa 19 Mei 2026, mengenai dugaan ketidaksesuaian aktivitas peninbunan lahan Tersus dengan dokumen AMDAL, hingga kini tidak memberi respon apapun.
Namun, pada keterangan resmi yang dikirim satu hari setelah kejadian banjir, 18 Mei 2026 ke Jurnalis.co.id, Budi Mateus tak menampik bahwa banjir tidak hanya diakibatkan faktor curah hujan yang sangat tinggi. Namun ada faktor aktivitas pematangan dan penimbunan lahan yang sedang berlangsung di kawasan terminal khusus.
“Sebelumnya kami dari PT BAP menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Betul kita mengakui, selain faktor hujan, banjir terjadi dampak dari aktivitas pematangan dan penimbunan lahan yang sedang berlangsung di kawasan terminal khusus,” kata Budi.
Pihaknya pun memastikan tidak akan lepas tanggung jawab. Bahkan pada saat terjadi banjir langsung menurunkan alat berat untuk menanggulangi air.
“Sekarang banjir sudah surut. Kita akan melakukan penataan drainase jika aktivitas penimbunan sudah selesai. Sekarang lagi tahap pematangan lahan di lokasi sekitar terminal khusus,” tutup Budi. (Lim)






















Discussion about this post