
Jurnalis.co.id – Rapat Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama Pertamina membahas kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kecamatan Seponti ditanggapi Anggota DPRD, Syaeful Hartadin.
Syaeful berpandangan, rapat tersebut memang memperlihatkan niat baik untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Namun, menurutnya hingga saat ini, belum ada solusi konkret atas tersendatnya distribusi BBM kepada masyarakat.
“Permasalahan ini bukan semata soal ketersediaan BBM. Tetapi bagaimana distribusinya bisa sampai kepada masyarakat,” kata Syaeful, Minggu (24/5/2026).

Ia menekankan, persoalan kelangkaan BBM merupakan masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena itu, penyelesaiannya dinilai perlu melibatkan berbagai unsur. Mulai dari pemerintah daerah sebagai pemilik dan pengatur wilayah, Pertamina sebagai pengelola distribusi BBM, aparat keamanan, hingga DPRD sebagai wakil masyarakat.
“Jika permasalahan ini dirembukkan bersama, tentunya akan ada solusi yang tidak akan menyalahi aturan. Contohnya bisa diterbitkan surat rekomendasi tertentu yang diawasi dengan ketat,” lugasnya.
Kecamatan Seponti, kata Syaeful, saat ini hanya memiliki satu SPBU dan harus melayani enam desa dengan jarak antardesa yang cukup berjauhan. Kondisi tersebut, dinilai menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan BBM.
Ia pun mencontohkan warga dari Desa Durian Sebatang maupun Sungai Sepeti yang harus datang ke Wonorejo, lokasi SPBU beroperasi. Hanya untuk membeli empat hingga lima liter BBM menggunakan sepeda motor.
“Kalau masyarakat harus menempuh perjalanan jauh, mengantre lama, lalu pulang dengan BBM yang hampir habis di perjalanan, tentu itu tidak efektif dan sangat memberatkan warga,” ucapnya.
Selain kebutuhan rumah tangga, ia juga menyoroti sektor lain yang sangat bergantung pada BBM. Seperti traktor pertanian, mesin pemotong rumput, hingga kapal-kapal kecil milik nelayan lokal.
“Peralatan seperti traktor sawah atau kapal nelayan tentu tidak mungkin dibawa langsung ke SPBU untuk mengisi BBM,” katanya.
Melihat kondisi ini, Syaeful berpendapat, situasi di Seponti sudah dalam kondisi darurat. Antrean panjang warga di SPBU bahkan disebut berpotensi memicu keributan di tengah masyarakat.
Karena itu, ia pun meminta pemerintah daerah bersama Pertamina dan unsur Muspida, termasuk kepolisian, untuk mengambil langkah cepat melalui kebijakan diskresi dalam pendistribusian BBM.
“Saya kira, perlu ada diskresi supaya distribusi BBM bisa menjangkau sampai ke tingkat desa,” tegasnya.
Menurut Syaeful, apabila Pertamina mampu menjamin distribusi BBM merata ke seluruh wilayah Kecamatan Seponti, maka persoalan tersebut sebenarnya tidak akan menjadi masalah besar. Namun dengan kondisi SPBU hanya satu, keberadaan pangkalan atau titik distribusi khusus dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“Perlu adanya pangkalan-pangkalan yang diberi izin khusus untuk membantu penyaluran BBM hingga ke desa-desa. Sehingga tidak terjadi kelangkaan maupun antrean panjang di SPBU,” sarannya.
Terakhir, Syaeful mengharapkan, seluruh pemangku kebijakan segera mengambil keputusan yang cepat dan tepat demi mengatasi persoalan tersebut.
“Saya berharap pimpinan daerah dan pimpinan Pertamina turun langsung kelapangan. Sehingga dapat memahami dan melihat sendiri masalah sebenarnya,” demikian Syeful. (Bak)






















Discussion about this post