
Jurnalis.co.id – Pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, disorot warga lantaran pembangunannya tidak sesuai standar alias asal-asalan.
Sumardi, satu diantara warga Desa Nanga Dua mengungkapkan, di desanya sedang ada pembangunan dapur MBG, yang hingga hari ini masih berproses. Namun pembangunan tersebut, diduga dikerjakan secara asal-asalan dan tidak sesuai standar dari BGN.
“Karena tiang depan bukan menggunakan kayu Belian. Perabung sama lis plang juga tidak ada. Kemudian bangunan yang samping, jauh benar beda dengan yang di bangun di desa tetangga Nanga Payang,” kata Sumardi, Senin (25/5/2026).

Sumardi mengatakan, pembangunan dapur MBG di desanya ada dua. Yakni, satu gedung untuk dapur dan satu gedung untuk tempat penginapan tukang masak.
“Yang pasti, kita minta pembangunan dapur MBG harus sesuai standar pemerintah. Jangan bangun asal-asalan, yang kemungkinan tidak sesuai RAB,” tegasnya.
Sumardi yang juga Kepala Seksi Pemerintahan Desa Nanga Dua ini menyampaikan, jika pembangunan dapur MBG terbukti dikerjakan secara asal-asalan, maka bangunan harus dibongkar dan dibangun sesuai standar yang ada.
“Untuk anggaran pembangunan dapur MBG ini saya tidak tahu,” akunya.
Sementara itu, Kepala Desa Nanga Dua, Gregorius Amat membenarkan, bahwa di desanya sedang pembangunan dapur MBG dan hingga hari ini belum selesai.
“Sesuai tidaknya bangunan MBG ini, saya kurang tahu. Pihak swastalah yang tahu. Karena ketika bangunan ini selesai, maka bangunan ini merupakan milik swasta (kontraktor) bukan milik desa,” jawab Amat.
Amat mengaku, kurang memahami apakah bangunan MBG itu tidak memenuhi standar atau sebaliknya. Menurutnya, tentu akan ada tim peninjau yang punya kapasitas menilainya.
“Saya melihat, pembangunan dapur MBG yang dilakukan tersebut sudah mengikuti bistik yang ada. Kalau pun ada masyarakat yang mengatakan pembangunan tidak sesuai, saya juga kurang tahu,” demikian Amat. (Opik)






















Discussion about this post