
JURNALIS.CO.ID – MEMPAWAH – Vihara Tjhie San Thong Mempawah di Jalan Opu Daeng Menambon yang bakal dibongkar oleh Yayasan Vihara untuk dibangun baru, mendapat penolakan dari sebagian warga Tionghoa di Kabupaten Mempawah.
Sebagian warga menyayangkan pembongkaran bangunan lama Vihara Tjhie San Thong yang selama ini dikenal sebagai vihara tertua di daerah tersebut. Bangunan rumah ibadah berusia sekitar 180 tahun itu dinilai bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga simbol sejarah masuknya perantauan Tionghoa di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Mantan Anggota DPRD Kabupaten Mempawah, Amilia, turut menyampaikan keprihatinan nya terhadap perubahan bangunan Vihara Tjhie San Thong yang disebut akan menggunakan arsitektur modern.

“Vihara ini sudah berusia ratusan tahun dan memiliki sejarah yang panjang. Alangkah lebih bijaknya jika Vihara Tjhie San Thong direhabilitasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya demi menjaga kelestarian peninggalan leluhur,” ujarnya.
Menurut Amilia, rehabilitasi bangunan lama jauh lebih tepat dibandingkan membangun ulang dengan mengubah keseluruhan bentuk arsitektur. Ia menilai mempertahankan bangunan asli akan membuat generasi muda tetap dapat melihat secara langsung peninggalan sejarah masyarakat Tionghoa di Mempawah.
Ia juga menyarankan apabila pembangunan baru tetap dilakukan, sebaiknya dibangun di area lain yang masih berada di kompleks vihara. Menurutnya, lahan vihara yang disebut mencapai sekitar dua hektare masih memungkinkan pembangunan fasilitas baru tanpa harus menghilangkan bangunan lama.
“Kalau memang ingin membangun bangunan baru, masih bisa dilakukan di sebelah vihara karena lahannya cukup luas. Dengan begitu bangunan asli tetap bisa dilestarikan,” katanya.
Amilia turut meminta Pemerintah Kabupaten Mempawah mengambil peran dalam menjaga keberadaan aset budaya dan religi bersejarah tersebut agar tidak hilang.
“Kita berharap pemerintah daerah bisa turun tangan menjaga kelestarian Vihara Tjhie San Thong yang sudah berusia ratusan tahun ini agar tidak hilang begitu saja,” harapnya.
Berdasarkan catatan sejarah, Vihara Tjhie San Thong awalnya dibangun sekitar tahun 1846 di Kelurahan Tengah pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kemudian sekitar 84 tahun lalu, atau tiga hari sebelum tentara Jepang masuk ke Indonesia, bangunan vihara kemudian dipindahkan ke lokasi yang tidak jauh dari tempat semula.
Saat ini Vihara Tjhie San Thong berada di Jalan Opu Daeng Manambon, Kota Mempawah, tepat di belakang kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mempawah. Vihara tersebut dikenal sebagai vihara vegetarian yang dipimpin seorang biarawati.
Keberadaan Vihara Tjhie San Thong selama ini dianggap memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi karena menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Mempawah sejak masa kolonial Belanda. Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, vihara tersebut juga dikenal sebagai simbol kerukunan dan toleransi masyarakat lintas etnis di daerah itu.
Sebagian warga Tionghoa di Mempawah, yang di temui wartawan media ini berharap, proses perbaikan atau rehabilitasi bangunan tetap mempertahankan bentuk arsitektur aslinya agar identitas sejarah tidak hilang. Mereka menilai pembangunan ulang dengan konsep modern tanpa mempertahankan ciri khas bangunan lama, akan menghapus jejak sejarah yang diwariskan para leluhur.
Pelestarian bangunan bersejarah dinilai penting sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang memiliki nilai edukasi bagi generasi mendatang. Kehadiran bangunan tua tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat perjalanan sosial, budaya, dan toleransi yang tumbuh di tengah masyarakat. Jika aset-aset bersejarah terus hilang akibat perubahan total tanpa mempertahankan bentuk aslinya, maka generasi berikutnya tidak lagi memiliki kesempatan untuk melihat dan mempelajari warisan sejarah tersebut secara langsung.
Selain itu, Vihara Tjhie San Thong selama ini menjadi salah satu pusat ibadah masyarakat Tionghoa di Mempawah. Tidak sedikit umat Tionghoa dari luar daerah juga datang untuk beribadah di Vihara tersebut.
Kompleks vihara yang memiliki halaman luas itu juga disebut menyimpan banyak kenangan masyarakat sekitar. Bahkan, lokasi tersebut dikabarkan pernah menjadi tempat bermain masa kecil Ria Norsan sebelum menjadi Gubernur Kalimantan Barat. (san)





















Discussion about this post