
Jurnalis.co.id – Pengurus Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Simpang Hilir-Telok Melano membantah beberapa isu yang beredar ihwal pengoperasian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur mereka.
Misalnya mulai dari tudingan soal adanya zat berbahaya dalam makanan yang didistribusikan. Hingga kabar bahwa dapur operasional berada di bekas bangunan sarang walet yang dinilai tidak layak digunakan.
Kepala SPPG Simpang Hilir–Telok Melano, Ansori menegaskan, seluruh makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat telah melalui proses pengawasan dan pengujian laboratorium.

Berdasarkan hasil uji laboratorium yang diterbitkan pada 20 Oktober 2025, tidak ditemukan kandungan zat berbahaya pada bahan makanan maupun menu yang didistribusikan ke penerima manfaat program tersebut.
“Hasil uji laboratorium sudah keluar dan hasilnya negatif. Jadi kami tidak berbicara berdasarkan spekulasi, namun berdasarkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ansori, Kamis (4/6/2026).
Ansori berharap, jangan sampai muncul pemberitaan yang tidak jelas. “Hingga melakukan penggiringan opini yang menyesatkan serta menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat,” timpalnya.
Ia menyebut, informasi soal makanan program MBG mengandung zat berbahaya tidak sesuai dengan fakta yang ada. Karena itu, Ansori berharap, masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Serta mengedepankan hasil pemeriksaan resmi sebelum menarik kesimpulan.
Selain membantah isu produksi makanan, Ansori turut menepis tudingan yang menyebut dapur MBG yang dikelolanya beroperasi di bangunan bekas sarang walet, sehingga dianggap tidak memenuhi standar kesehatan.
Ansori berkilah, bangunan tersebut sudah lama tidak difungsikan sebagai sarang walet, sebelum digunakan sebagai fasilitas pengolahan makanan.
Ia menjelaskan, sebelum dapur mulai beroperasi, pihak mitra telah melakukan renovasi, pembersihan dan penataan ulang bangunan. Supaya sesuai dengan standar operasional yang berlaku.
“Itu tidak benar. Bangunan tersebut sudah lama tidak digunakan sebagai sarang walet. Sebelum dijadikan dapur, seluruh area telah dilakukan perbaikan dan pembersihan secara menyeluruh. Sehingga dinyatakan layak untuk beroperasi,” lugasnya.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Camat Simpang Hilir, Apan. Ia memastikan, bangunan yang kini digunakan sebagai dapur SPPG tidak lagi berfungsi sebagai sarang walet. Bangunan sarang walet ada, jauh sebelum dimanfaatkan untuk mendukung Makan Bergizi Gratis.
Menurut Apan, proses pembersihan dan perbaikan bangunan telah dilakukan. Bahkan sebelum dapur mulai beroperasi. Ia juga menegaskan, hasil pengujian laboratorium menunjukkan, makanan yang diproduksi dan didistribusikan kepada penerima manfaat aman untuk dikonsumsi.
“Bangunan itu sudah lama tidak difungsikan sebagai sarang walet. Ketika dijadikan dapur MBG, memang sama pemiliknya. Tapi sudah lama tidak difungsikan lagi,” timpalnya.
Apan pun mengajak masyarakat untuk mendukung program MBG. Karena dinilai memberikan manfaat nyata, baik dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak maupun mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Menurutnya, keberadaan dapur MBG telah membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Sehingga membantu meringankan beban pengeluaran keluarga untuk kebutuhan konsumsi anak.
“Program ini memberikan dampak positif yang besar. Banyak tenaga kerja lokal yang terserap dan para orang tua juga sangat terbantu. Terutama dalam mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan makan anak-anak,” tuturnya.
Sebagai Camat, Apan mengimbau, teruntuk masyarakat supaya bisa menyikapi berbagai informasi yang beredar. Tentunya harus secara objektif dan berdasarkan fakta yang dapat diverifikasi.
Sehingga, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dapat terus berjalan optimal demi mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kualitas Sumber Daya Manusia di Kabupaten Kayong Utara. (Bak)






















Discussion about this post