
JURNALIS.co.id – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi selama dua hari terakhir di Kota Pontianak dan sejumlah wilayah di Kalimantan Barat menuai gelombang protes.
Selain mengganggu aktivitas masyarakat dan dunia usaha, pemadaman yang berlangsung hingga enam jam tanpa kepastian waktu pemulihan membuat Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin geram.
Ia menilai PT Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero) belum memberikan penjelasan yang memadai kepada publik terkait penyebab maupun estimasi berakhirnya krisis listrik tersebut.

Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin menegaskan, masyarakat berhak memperoleh informasi yang transparan mengenai kondisi sistem kelistrikan yang sedang terjadi.
Menurutnya, komunikasi PLN kepada pelanggan sejauh ini masih minim dan belum mampu menjawab keresahan warga yang harus menghadapi pemadaman berulang.
“Jangan biarkan masyarakat hanya menunggu tanpa kepastian. PLN harus terbuka, apa persoalannya, berapa lama penanganannya, dan kapan listrik benar-benar kembali normal,” tegas pria yang akrab disapa Bang Satar ini.
Dia menyatakan, pemadaman berkepanjangan telah berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat, mulai dari rumah tangga, perkantoran, pelaku UMKM, hingga sektor perdagangan.
Tidak sedikit warga yang mengeluhkan kerusakan peralatan elektronik akibat listrik yang padam dan menyala berulang kali.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pontianak ini juga meminta PLN segera menghadirkan solusi konkret, bukan hanya menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai gangguan biasa karena sudah berlangsung selama dua hari dengan durasi pemadaman yang mencapai sekitar enam jam di sejumlah kawasan.
Saat ini PLN menerapkan pemadaman bergilir di berbagai wilayah dengan durasi sekitar empat hingga enam jam per kelompok pelanggan. Namun hingga Sabtu 4 Juli 2026, banyak masyarakat masih mengeluhkan padamnya listrik yang kembali terjadi di sejumlah kawasan.
DPRD Kota Pontianak berharap PLN segera menuntaskan perbaikan sistem sekaligus meningkatkan kualitas komunikasi kepada masyarakat agar pelanggan memperoleh informasi yang akurat dan tidak hanya mengandalkan kabar yang beredar di media sosial.
Kekecewaan juga datang dari sejumlah warga yang mengaku dirugikan akibat pemadaman listrik yang terjadi berulang selama dua hari terakhir.
Rina (34 tahun), warga Kecamatan Pontianak Kota, mengaku aktivitas usahanya terganggu karena listrik padam hingga berjam-jam.
Menurutnya, selain menurunkan pendapatan, pemadaman tanpa kepastian membuat pelanggan enggan datang.
“Sudah dua hari begini. Hari pertama hampir enam jam padam, hari ini padam lagi. Kami tidak tahu sampai kapan. Kalau memang ada gangguan, sampaikan saja secara jelas supaya kami bisa mengantisipasi,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Andi, warga Pontianak Selatan. Ia mengaku kesal karena listrik beberapa kali padam dan menyala kembali dalam waktu singkat, sehingga dikhawatirkan dapat merusak peralatan elektronik di rumah.
“Yang bikin kesal itu bukan hanya padamnya, tapi informasinya tidak jelas. Kadang listrik hidup sebentar lalu mati lagi. Kami jadi waswas televisi, kulkas, dan alat elektronik lainnya rusak,” katanya.
Sementara itu, seorang pelaku usaha kuliner di Pontianak Barat, Yanto, mengatakan pemadaman listrik menyebabkan bahan makanan yang memerlukan pendingin mulai terancam rusak.
Ia berharap PLN segera menyelesaikan gangguan tersebut dan memberikan kepastian kepada pelanggan.
“Kami bayar listrik tepat waktu, jadi wajar kalau kami menuntut pelayanan yang baik. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan karena listrik padam berulang tanpa kepastian,” ujarnya.
Keluhan juga datang dari Ainun, pelaku usaha kuliner di Pontianak Selatan yang mengeluhkan listrik mati hingga jam 23.00 malam, yang menyebabkan produksi usahanya terlambat.
Bahkan Jumadi, seorang tukar cukur rambut harus menutup tempat usahanya lebih awal karena semua peralatannya tidak bisa digunakan karena listrik mati.
“Terpaksa tutup lebih awal karena peralatan potong rambut tidak bisa digunakan,” ucapnya.
Sejumlah warga juga mengeluhkan sulitnya memperoleh informasi mengenai jadwal maupun durasi pemadaman.
Mereka berharap PLN lebih aktif menyampaikan perkembangan penanganan gangguan melalui berbagai kanal resmi sehingga masyarakat tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial. ***
(R/Ndi)






















Discussion about this post