Image Image
Kapuas Hulu

Pembebasan Lahan Proyek Pile Slab Kalis – Putussibau Gunakan Nilai Pengganti Wajar

Wakil Bupati Kapuas Hulu Wahyudi Hidayat membuka pertemuan antara Tim Appresial dengan warga yang terdampak pembangunan Pile Slab ruas Jalan Lintas Selatan Kalis – Putussibau di Gedung Serbaguna Kecamatan Putussibau Selatan, Jumat (23/07/2021). Foto: Achmad Mundzirin/Jurnalis.co.id

– Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan Tim Appresial melakukan pertemuan dengan warga terdampak pembangunan Pile Slab Ruas Jalan Lintas Selatan Kalis – Putussibau di Gedung Serbaguna Kecamatan Putussibau Selatan, Jumat (23/07/2021). Pertemuan tersebut membahas berkaitan pembebasan lahan.

Kegiatan dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Wahyudi Hidayat yang didampingi Kabag Pertanahan Setda Kapuas Hulu Adji Winursito dan BPN Kapuas Hulu. Hadir pula warga terdampak pembangunan atau pemilik lahan yang akan dibebaskan.

Wabup Wahyu ditemui sejumlah wartawan usai membuka kegiatan meminta Tim Appresial untuk mempercepat proses pembebasan lahan, agar proses pembangunan Pile Slab Ruas Jalan Lintas Selatan Kalis – Putussibau dapat langsung berjalan ketika pemenang kontrak sudah ditetapkan. Karena sangat disayangkan andai pertengahan Agustus pemenang kontrak sudah siap, namun pembebasan lahan belum tercapai atau terselesaikan.

“Kita maunya beriringan, pembebasan lahan selesai, pelaksana bisa langsung berjalan melakukan pembangunan,” terangnya.

“Saya mendengar informasi saat ini sedang dalam tahap klarifikasi perusahaan-perusahaan yang mengikuti lelang,” sambung Wahyu.

Wabup meminta kepada masyarakat yang terdampak pembangunan ini untuk mendukung pembangunan pemerintah. Dalam artian dukung proses pembebasan lahan.

“Saya sudah memohon kepada masyarakat, saya minta tolong, demi pembangunan ini,” ucap Wahyu.

Sementara itu, Kabag Pertanahan Setda Kapuas Hulu Adji Winursito menyatakan kegiatan hari ini merupakan pertemuan antara tim Appresial dengan masyarakat terdampak atas pembangunan Pile Slab atau yang biasa disebut dengan jalan layang.

Image

“Pertemuan ini terkait mekanisme pembebasan lahan supaya warga juga jelas, di mana pembebasan lahan harus ada mekanisme yang dilalui,” jelasnya.

Adji mengungkap total pembebasan lahan untuk pembangunan Pile Slab ini selebar 15 meter x 850 meter. Total 17 pemilik lahan yang terkena dampak pembangunan.

“Kita tidak menggunakan NJOP atau nilai pasar, karena kalau berdasarkan itu hanya Rp25-30 ribu per meter tentu masyarakat tidak mau, makanya strategi kita bersama Tim Appresial adalah menggunakan Nilai Pengganti Wajar (NWP),” ungkapnya.

Menurut Adji, setelah pertemuan ini, masyarakat dapat memahami apa yang disampaikan oleh Tim Appresial. Maka di hari ini juga akan langsung turun inspeksi di lapangan.

“Insipeksi dilakukan lantaran pemilik lahan tidak hanya sekedar ada lahan, tetapi mungkin ada usaha, ada bangunan ada tumpukan dan sebagainya. Nanti yang menaksir adalah Tim Appresial,” bebernya.

Adji menegaskan, pembebasan lahan ini harus berhasil atau sukses. Kalau tidak berhasil, kata dia, maka terjadi deadlock.

“Ketika deadlock, maka terjadi problem, karena tidak mungkin titik koordinat jalan itu kita pindahkan. Dengan strategi NPW dalam pembebasan lahan oleh Tim Appresial, kita harap ini berhasil,” pungkasnya.

Dia berharap kepada masyarakat yang terdampak dalam pembangunan Pile Slab ini untuk mendukung proyek yang dilakukan pemerintah dengan menerima NPW yang diajukan oleh Tim Appresial untuk pembebasan lahan tersebut. (rin)

Image
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top