
JURNALIS.co.id – MEMPAWAH – Festival Budaya Robo’-Robo’ kembali digelar di Kabupaten Mempawah, Rabu (20/8/2025), dengan penuh khidmat dan meriah. Ribuan warga memadati Pelabuhan Kuala Mempawah untuk mengikuti prosesi budaya yang telah menjadi ikon kebanggaan daerah ini.
Acara pembukaan ditandai dengan pemukulan tar bersama yang dipimpin Asisten Administrasi dan Umum Setda Provinsi Kalimantan Barat, Alfian, mewakili Gubernur Kalbar. Kehadiran para pejabat, tokoh adat, hingga masyarakat umum menambah semarak festival yang selalu dinanti setiap tahun.
Bupati Mempawah, Erlina, menegaskan bahwa Robo’-Robo’ bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ritual budaya penuh makna yang diwariskan turun-temurun. Prosesi ini rutin digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar, sebagai doa agar masyarakat terhindar dari bala dan petaka, sekaligus untuk mengenang kedatangan Raja Opu Daeng Manambon ke Kerajaan Bangkule Rajangk (Mempawah) pada tahun 1773 Masehi.

“Robo’-Robo’ kini telah berkembang menjadi pesta rakyat dengan beragam atraksi, lomba, kuliner, hiburan, hingga permainan anak-anak. Namun demikian, nilai luhur dan makna budaya harus tetap menjadi ruh utama, bukan semata-mata orientasi bisnis,” tegas Erlina.
Ia juga mendorong panitia agar terus berinovasi menghadirkan konsep baru di setiap penyelenggaraan, tanpa meninggalkan akar budaya, adat, dan agama. “Warisan leluhur ini harus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus,” tambahnya.
Selepas acara seremoni, kemeriahan festival semakin meningkat dengan digelarnya lomba sampan bidar di Sungai Kuala Mempawah. Sebanyak 48 tim peserta dari berbagai kota dan kabupaten di Kalimantan Barat ikut ambil bagian, menampilkan adu ketangkasan mendayung yang selalu menjadi tontonan favorit masyarakat. Sorak-sorai penonton di sepanjang bantaran sungai menambah semarak jalannya perlombaan.

PYAM Raja Mempawah XIV, Mochammad Hafidz Adinugraha, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan komitmennya menjaga kelestarian budaya Robo’-Robo’ bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kami dari Kesultanan Amantubillah akan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat untuk mempertahankan budaya daerah ini. Robo’-Robo’ bukan hanya milik Mempawah, tetapi juga menjadi identitas dan kebanggaan Kalimantan Barat. Nilai luhur dan khazanah budaya yang terkandung di dalamnya harus selalu dijunjung tinggi dan diwariskan kepada generasi penerus,” ujarnya.
Selain lomba bidar, rangkaian kegiatan tahun ini juga dimeriahkan dengan berbagai lomba rakyat, pentas seni budaya, bazar UMKM, serta atraksi tradisi maritim khas Mempawah. Seluruh kegiatan dikemas untuk menarik minat wisatawan sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Festival yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia ini juga dihadiri Wakil Bupati Juli Suryadi, Forkopimda, Sekda Ismail, kerabat Istana Amantubillah, serta para tamu undangan.
Sebagai penutup, masyarakat dan tamu undangan menikmati tradisi makan saprah bersama di Dermaga Kuala Mempawah. Hidangan khas yang disajikan beralas daun pisang, dimakan beramai-ramai tanpa sekat, menjadi simbol kuat kebersamaan dan persaudaraan masyarakat Mempawah. (san)


















Discussion about this post