
JURNALIS.co.id – Persoalan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu kembali memicu keluhan masyarakat.
Air Sungai Seberuang yang menjadi sumber kehidupan warga dilaporkan kembali keruh dalam beberapa hari terakhir, diduga akibat aktivitas PETI di wilayah hulu sungai.
Kondisi ini dikeluhkan warga Desa Tanjung Keliling yang mengaku tidak lagi bisa memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat menduga aktivitas PETI yang berada di Dusun Nanga Nyawa, Desa Nanga Lot, Kecamatan Seberuang menjadi penyebab utama tercemarnya aliran Sungai Seberuang.
“Pasti ada pekerjaan PETI di hulu sungai Nanga Nyawa.Kalau tidak ada PETI, mana mungkin air sungai Seberuang keruh seperti ini, ” kata Putra Kepala Dusun Tanjung Keliling Desa Tanjung Keliling Kecamatan Seberuang kemarin.
Ia mengatakan, kondisi air sungai yang keruh telah berlangsung selama beberapa hari terakhir sehingga warga tidak lagi berani menggunakannya untuk keperluan sehari-hari.
“Jangankan manusia, binatang saja tidak layak untuk mengkonsumsi air seperti ini, ” kesalnya.
Putra menegaskan, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa penyelesaian yang jelas dari pemerintah maupun aparat penegak hukum, masyarakat berencana melakukan aksi simbolik sebagai bentuk kekecewaan.
Jika dibiarkan seperti kata Putra, dirinya memastikan masyarakat akan kembali melakukan gerakan yakni mengibarkan bendera merah putih pada HUT RI 17 Agustus 2026 nanti sebagai bentuk kekecewaanya terhadap Pemerintah maupun Aparat Penegak Hukum (APH).

“Jangan salahkan kami ketika bendera merah putih dikibarkan setengah tiang nantinya, ” ucapnya.
Ia pun memberi waktu kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah konkret menyelesaikan persoalan PETI yang diduga menjadi penyebab keruhnya air sungai tersebut.
Maka dari itu, pihaknya memberikan waktu kepada Pemerintah Daerah maupun APH untuk dapat menyelesaikan permasalahan ini. Karena masyarakat yakin keruhnya air sungai Seberuang ini pasti ada kegiatan PETI.
“Kami sudah muak dengan kondisi air sungai Seberuang seperti ini. APH dan Pemerintah Daerah tidak serius menuntaskan masalah PETI di tempat kami, ” ungkapnya.
Menurutnya, permasalahan PETI di wilayah tersebut seolah tidak pernah benar-benar diselesaikan sehingga kejadian serupa terus berulang dan berdampak pada pencemaran sungai yang menjadi sumber air masyarakat.
Dia menilai Pemerintah Daerah maupun APH tidak serius dalam menuntaskan masalah PETI di wilayahnya sehingga kejadian ini terus berulang-ulang membuat air sungai Seberuang menjadi tercemar.
“Kalau mereka serius, air sungai kami ini tidak seperti ini kondisinya, ” pungkasnya.
( Opik )




















Discussion about this post