
JURNALIS.co.id – Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat pada awal tahun 2026.
Kondisi cuaca yang tidak lazim, ditandai dengan minimnya curah hujan serta suhu udara yang relatif tinggi, dinilai memperbesar risiko kebakaran di sejumlah wilayah.
Memasuki Januari 2026, hujan tercatat turun dalam intensitas terbatas dan tidak merata. Situasi tersebut menyebabkan lahan menjadi lebih kering, khususnya di wilayah dengan karakteristik gambut seperti Kabupaten Kubu Raya dan kawasan penyangga Kota Pontianak.

“Dengan kondisi cuaca seperti sekarang ini, masyarakat harus lebih berhati-hati. Ada anomali cuaca, sehingga pembukaan lahan dengan cara dibakar sebaiknya benar-benar dihindari,” ujar Aloysius, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, kebakaran pada lahan gambut memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses pemadaman. Api kerap tidak sepenuhnya padam dan masih tersimpan di lapisan bawah tanah, sehingga berpotensi kembali menyala sewaktu-waktu.
“Kebakaran di gambut itu berbeda. Secara kasat mata mungkin sudah padam, tapi di bawah tanah apinya masih ada. Ini yang membuat dampaknya bisa meluas dan sulit dikendalikan,” jelasnya.
Aloysius menegaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Asap kebakaran dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga penyakit ISPA, bahkan berpotensi mengganggu transportasi udara.
“Kita pernah mengalami bagaimana kabut asap sampai menghambat penerbangan di Bandara Supadio. Itu tentu sangat merugikan masyarakat,” katanya.
Ia turut mengapresiasi kerja keras tim penanggulangan karhutla yang selama ini aktif melakukan upaya pencegahan dan pemadaman hingga ke pelosok desa.
Meski demikian, Aloysius menegaskan bahwa kesadaran masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam mencegah terjadinya kebakaran.
“Larangan membakar hutan dan lahan itu selalu disampaikan setiap tahun. Tapi yang paling penting adalah kesadaran kita bersama untuk menjaga lingkungan,” tegas politisi senior PDI Perjuangan itu.
Lebih lanjut, Aloysius menambahkan bahwa rangkaian bencana alam yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini—mulai dari banjir, longsor, hingga gempa bumi—seharusnya menjadi pengingat bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
“Kalau alam sudah mulai memberi peringatan, artinya kita juga harus berubah. Mulai dari hal sederhana, menjaga lingkungan, tidak merusak, bahkan menanam pohon agar alam tetap terjaga dan lestari,” pungkasnya.
(lov)


















Discussion about this post