
JURNALIS.co.id – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, meninjau progres pembangunan Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus di Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, Senin (2/3/2026).
Didampingi Bupati Kubu Raya, Sujiwo, ia melihat langsung lokasi pembangunan yang saat ini masih dalam tahap perencanaan desain dan pengurusan perizinan.
Dalam kunjungan tersebut, Maruarar memuji kepemimpinan Sujiwo yang dinilai inklusif dan mampu membangun komunikasi lintas elemen masyarakat.

“Saya yakin Pak Bupati ini bisa menjaga hubungannya baik ke semua kalangan. Justru kekuatan kita itu pada perbedaan. Bahasa kita banyak, pulau kita banyak, keyakinan kita hormati, suku dan etnis kita beragam. Contoh yang dilakukan Pak Bupati ini baik dan harus diteruskan,” ujar Menteri Maruarar.
Ia menegaskan bahwa komunikasi yang baik serta sikap saling menghargai menjadi kunci dalam merawat Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.
“Kalau kita mau saling menghargai, komunikasi yang baik dan bisa mengayomi. Itu kunci keberhasilan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Maruarar juga menyerahkan bantuan sebesar Rp500 juta kepada panitia pembangunan gereja sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah.
Bupati Sujiwo menegaskan bahwa pembangunan gereja dilakukan sesuai tahapan dan prosedur yang berlaku.
Ia telah meminta panitia segera menuntaskan proses perizinan agar pembangunan fisik dapat dimulai setelah seluruh administrasi rampung.
“Memang pembangunan gereja ini sedang berproses. Saya sampaikan kepada panitia untuk segera mengurus perizinannya. Tetap sesuai mekanisme, tahapan, dan prosedur. Saya pasti berikan atensi,” ucap Sujiwo.

Ia menegaskan komitmennya menjalankan konstitusi dan prinsip toleransi dalam memimpin daerah.
“Saya terikat sumpah jabatan untuk memegang teguh Pancasila dan UUD 1945. Jika ada perilaku yang bertentangan dengan konstitusi, kewajiban saya meluruskan. Perbedaan itu indah, perbedaan adalah kekuatan yang harus kita jaga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Gereja, Pastor Jensi, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah.
Ia menjelaskan gereja yang dirancang berkapasitas 800 hingga 1.000 jemaah tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar Rp10 miliar.
“Kami sedang dalam perancangan desain dan pengurusan izin. Kemungkinan peletakan batu pertama pada bulan Juli. Bantuan dari Pak Menteri ini menjadi dana awal yang sangat membantu kami,” kata Pastor Jensi.
Menurutnya, pembangunan rumah ibadah bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari penguatan iman dan kehidupan sosial umat.
“Harapannya, dengan adanya rumah ibadah ini, kehidupan rohani semakin berkembang dan bisa diwujudkan dalam persaudaraan yang rukun dan damai, bukan hanya dengan sesama, tetapi juga dengan lingkungan,” tuturnya.
[Sul]




















Discussion about this post