
JURNALIS.co.id – Bupati Kubu Raya Sujiwo mendorong pondok pesantren agar menjadi pilihan utama masyarakat dalam pendidikan anak.
Ia menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya di Pondok Pesantren Darun Nasyiin, Desa Simpang Kanan, Kecamatan Sungai Ambawang, Rabu (4/3/2026).

Sujiwo menyebutkan bahwa Kabupaten Kubu Raya merupakan daerah dengan jumlah pondok pesantren terbanyak di Pulau Kalimantan.
“Bukan hanya Kalimantan Barat, tapi se-Kalimantan itu yang paling banyak ternyata ada di Kabupaten Kubu Raya,” kata Bupati Sujiwo saat menghadiri Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya di Pondok Pesantren Darun Nasyiin, Desa Simpang Kanan, Kecamatan Sungai Ambawang, Rabu (4/3/2026).
Namun demikian, Sujiwo mengaku masih merasa miris karena sebagian orang tua masih menjadikan pesantren sebagai pilihan terakhir ketika anak tidak diterima di sekolah umum.
“Yang selama ini kadangkala sudah tidak diterima di SMP ini, tidak diterima di SD itu, enggak diterima di sini, enggak diterima di sana. Daripada anak saya tidak sekolah, ya sudahlah saya kirim ke pondok pesantren. Artinya, pondok pesantren seperti pilihan yang kesekian,” ujarnya.
Karena itu, Sujiwo mengaku memiliki mimpi agar ke depan pondok pesantren dibangun lebih representatif serta dikelola secara profesional sehingga mampu menjadi pilihan utama bagi masyarakat.
“Tetapi untuk mewujudkan supaya pondok pesantren ini menjadi pilihan yang utama, maka harus menyiapkan pondok-pondok pesantren itu misalnya seperti di Jawa Timur. Coba lihat di Jawa Timur itu, pondok-pondoknya keren, keren banget. Sehingga orang tuanya itu sudah tidak ada keraguan untuk mengirimkan putra-putri kesayangannya ke pondok pesantren,” tuturnya.

Ia menilai faktor infrastruktur dan fasilitas sangat mempengaruhi minat masyarakat. Jika akses jalan menuju pesantren sempit dan rusak, asrama tidak layak, serta lingkungan yang kurang bersih, maka orang tua tentu akan ragu memasukkan anaknya ke pesantren.
“Tetapi begitu menuju ke pondok jalannya mulus, drainasenya bagus, kamar asramanya bagus, kemudian ruang belajarnya bagus, pengajarnya baik ustaz maupun ustazahnya keren, insyaallah orang tua tidak akan ada keraguan,” tegasnya.
Sujiwo juga mengakui bahwa secara regulasi pengelolaan pondok pesantren menjadi tanggung jawab Kementerian Agama.
Namun menurutnya pemerintah daerah tetap perlu hadir membantu pengembangan pesantren di daerah.
“Kalau Pemerintah Kabupaten Kubu Raya (mengurus pondok) itu hukumnya bukan wajib, tapi sunah. Tapi kalau Kementerian Agama wajib. Namun persoalannya di Kementerian Agama anggarann terbatas. Ya, akhirnya mau tidak mau, walaupun anggaran (daerah) juga terbatas, harus pintar mengatur bagaimana membantu pondok-pondok pesantren secara bertahap sehingga dapat kita perhatikan,” terangnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai inovasi yang mulai dikembangkan sejumlah pesantren untuk memperkuat kemandirian ekonomi lembaga pendidikan tersebut.
“Makanya sekarang pondok-pondok pesantren mulai muncul kreativitasnya untuk menjadi pondok pesantren yang semi-mandiri. Sudah ada yang punya (usaha) travel umrah, punya minimarket, memproduksi madu kelulut, pertanian, ada yang ternak ikan, dan lain sebagainya. Maka itu keren banget, terus dapat dikembangkan,” tutup Sujiwo.
[Sul]




















Discussion about this post